Siapa tak kenal Ignasius Jonan? Sepak terjangnya memang jauh dari basa-basi. Pagi ini Pak Jonan baru saja melayangkan “tamparan” pedas kepada para akademisi di sebuah forum internasional. Pak Jonan menyampaikan hal itu usai sesi keynote yang dibawakannya pada hari pertama konferensi, 1 Juli 2021. Konferensi internasional ini diselenggarakan oleh salah satu universitas ternama di Bandung.
Disimak oleh sekitar dua ratus akademisi dari beberapa negara yang hadir secara daring, Pak Jonan menjawab sebuah pertanyaan dari salah seorang dosen yang ikut serta. Pertanyaannya sederhana, “Pak Jonan, can you elaborate what is the lack of our role as academics to address the world issues as mentioned before?” Sebuah pertanyaan yang mungkin terdengar klise.
Respons awal Pak Jonan cukup mengejutkan. “Is it a serious question?” jawabnya spontan. Namun yang lebih mengejutkan adalah jawaban berikutnya, yang juga sederhana tetapi sangat dalam. Begini kira-kira interpretasi bebasnya, terjemahan dari ucapan aslinya yang disampaikan dalam bahasa Inggris.
Kalian jangan cuma ngejar gelar! Kalian punya waktu banyak mempelajari ilmu pengetahuan, tapi sedikit menerapkan!
Waw! Sebuah kalimat yang sangat tajam. Sebuah pernyataan sangat pedas yang ditujukan langsung kepada para peserta konferensi yang sebagian besar doktor dan profesor. Tanpa terlihat sombong, Pak Jonan kemudian mengatakan bahwa dirinya sendiri juga punya gelar akademis, tetapi sedikit. Ia pun memperagakannya dengan gerakan tangan, membandingkan gelarnya dengan para doktor dan profesor.
Apa sebetulnya maksud pernyataan Pak Jonan itu?

Menara Gading yang (Tak Mau) Retak
Mungkin sudah menjadi persepsi umum bahwa dunia akademis adalah dunia yang eksklusif, menara gading yang jauh dari kehidupan nyata. Segala premis, hipotesis, analisis, dan “-is -is” lainnya yang ditawarkan oleh dunia akademis sepertinya hanyalah wacana yang tidak menapak ke bumi. Banyak penelitian yang dilakukan di balik pagar perguruan tinggi, adalah penelitian yang semata-mata demi ilmu pengetahuan dan demi dunia akademis itu sendiri.
Ketika pengembangan ilmu pengetahuan tidak bisa diimplementasikan dalam dunia nyata, dan ketika penelitian tidak dapat diterapkan bagi kepentingan dan kemajuan kemanusiaan, maka keberadaan akademisi pun dipertanyakan. Apakah tujuan akhir dari penelitian dan segala macam tulisan ilmiah adalah kenaikan gelar dan jenjang akademis semata? Bila demikian, berarti memang benar dunia akademis adalah dunia eksklusif yang egois.
Baca juga → Antara Dahlan Iskan dan Dok Mo Konvalesen
Buaian Jenjang
Tidak dimungkiri, ada rekan-rekan dosen yang selalu sibuk mengejar deadline penulisan jurnal Scopus, kejar-kejaran dengan kenaikan pangkat. Banyak pula topik-topik penelitian yang diajukan demi mendapatkan dana hibah yang menggiurkan. Ada pula perguruan tinggi yang menggenjot riset, demi meningkatkan peringkat akreditasi.
Sang dosen akhirnya memang naik jenjang akademis, tulisan-tulisan ilmiahnya memenuhi repositori dan pengindeks yang memukau. Topik-topik penelitian yang mutakhir itu, juga berjalan mulus dengan dukungan dana yang lancar, menjadi trending pembicaraan di kalangan researcher. Sang perguruan tinggi, akhirnya juga memperoleh akreditasi tinggi, menambah reputasi dan gengsinya.
Misi berhasil, bukan?
Pak Jonan, terima kasih sudah mengingatkan kita semua, membuat kita berpikir kembali apakah tridarma perguruan tinggi hanyalah jargon idealis yang nyaman diucapkan, tetapi sulit untuk dihayati sampai membumi? Apakah betul dunia akademis adalah menara gading yang begitu kukuh, pusat intelektual yang tak bercela?
Wahai rekan dosen yang selalu sibuk menulis jurnal, akankah seumur hidupmu kau habiskan mengejar gelar dan jenjang? Jangan sampai gelar panjangmu itu hanya untuk menambah panjang nama aslimu yang terlalu pendek.
Sudah seharusnya dunia akademis sebagai pelopor intelektualitas, menjadi motor kemajuan kemanusiaan. Semua ilmu pengetahuan apa pun bidangnya, selayaknya bersinergi, bersatu padu menghasilkan dampak yang nyata bagi masyarakat. Demikian salah satu pesan Pak Jonan dalam konferensi tersebut.
(is)
sumber foto atas: Kementerian ESDM
Ini juga menarik → Bila Corona Bisa Tertawa

