Program Kompetisi Kampus Merdeka (PKKM) disebut sebagai salah satu program unggulan untuk meningkatkan mutu dan relevansi perguruan tinggi agar dapat berkontribusi dalam meningkatkan daya saing bangsa. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Republik Indonesia pada tahun 2021 ini menyelenggarakan PKKM dengan anggaran mencapai 415 miliar rupiah.
Tahun berikutnya anggaran ini bahkan akan ditingkatkan lebih dari satu triliun. Demikian diungkapkan Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbudristek, Paristiyanti Nurwardani (15/10/2021).
PKKM diselenggarakan dalam rangka mendukung implementasi kebijakan Kampus Merdeka, yang bertujuan untuk mendorong transformasi di bidang pendidikan tinggi. Kompetisi ini terbuka bagi seluruh PTN (Perguruan Tinggi Negeri) dan PTS (Perguruan Tinggi Swasta) yang memenuhi syarat.
Terdapat tiga kategori perguruan tinggi yang dapat mengajukan proposal, yaitu Liga I untuk perguruan tinggi dengan jumlah mahasiswa aktif lebih dari 18 ribu orang dan minimal terakreditasi B atau baik sekali; Liga II untuk perguruan tinggi dengan jumlah mahasiswa aktif antara 5.001 sampai 18 ribu orang dan minimal terakreditasi B atau baik sekali; dan Liga III untuk perguruan tinggi dengan jumlah mahasiswa aktif antara seribu hingga lima ribu orang.
65% Diserap Perguruan Tinggi Swasta
Dari sekitar 500 perguruan tinggi yang memasukkan proposal, terdapat 291 perguruan tinggi yang memenuhi syarat. Namun perguruan tinggi yang lolos seleksi berikutnya dan memenangkan hibah PKKM tahun 2021 hanya 142, terdiri dari 31 perguruan tinggi Liga I, 46 perguruan tinggi Liga II, dan 65 perguruan tinggi Liga III. Dari seluruh perguruan tinggi yang memenangkan hibah, ternyata 65 persennya adalah PTS. Hal ini membuktikan bahwa PTS saat ini memiliki kualitas dan daya saing yang tinggi.
Paris menjelaskan, proses seleksi terdiri dari tiga tahap yaitu seleksi administratif, verifikasi substansi, dan validasi. “Pada tahap seleksi administratif banyak yang gugur tereliminasi karena tidak lolos administratif, berupa data di PDDikti yang clean and clear minimal 95 persen valid,” jelasnya.
Selanjutnya adalah tahap verifikasi dan validasi, terdiri dari lima kriteria, yaitu kejelasan program sesuai delapan Indikator Kinerja Utama; keterlibatan dengan elemen terkait; kapasitas institusi dan mitra industri dalam melaksanakan program; kelayakan anggaran yang diajukan; dan keberlanjutan program hingga tiga tahun ajaran, 2021 sampai 2023.
Indikator Kinerja Utama (IKU) yang ditargetkan PKKM untuk mendorong transformasi pendidikan tinggi adalah meliputi kualitas lulusan, kualitas dosen dan pengajar, serta kualitas kurikulum. Seluruhnya terdapat delapan IKU yang menjadi target pelaksanaan PKKM yaitu 1) Lulusan mendapat pekerjaan yang layak; 2) Mahasiswa mendapat pengalaman di luar kampus; 3) Dosen berkegiatan di luar kampus; 4) Praktisi mengajar di dalam kampus; 5) Hasil kerja dosen digunakan masyarakat dan mendapat rekognisi internasional; 6) Program studi bekerja sama dengan mitra kelas dunia; 7) Kelas yang kolaboratif dan partisipatif; dan 8) Program studi berstandar internasional.
Baca juga → Kuliah Lintas Kampus di 14 Universitas Beken
Kampus Inspirasi PKKM
Paris dalam taklimat media tentang praktik baik implementasi PKKM (Jumat, 15/10/2021) secara khusus memberikan apresiasi kepada salah satu perguruan tinggi pemenang hibah PKKM, yaitu Universitas Kristen Maranatha, Bandung. UK Maranatha dinilai sangat baik menjalankan PKKM, dan diharapkan dapat menjadi contoh bagi perguruan tinggi lainnya.
Ia mengungkapkan bahwa dengan dana hibah PKKM sekitar satu miliar, UK Maranatha dapat menyelenggarakan program melibatkan lebih dari 1.300 mahasiswa yang didampingi oleh orang-orang industri; bekerja sama dengan lebih dari 100 institusi; dan menjalankan lima dari delapan IKU. “Universitas Kristen Maranatha menyelenggarakan PKKM dengan transparan, efektif, efisien, output dan outcome-nya terlihat; pelaksanaan program PKKM betul-betul dapat dijalankan dengan sangat baik,” ucapnya.
Hibah PKKM UK Maranatha digunakan untuk mengakselerasi lima IKU, yaitu IKU 2, 3, 5, 6, dan 7. Total program yang diselenggarakan mencapai 42 program yang dikuti oleh 1.356 mahasiswa, 96 dosen, 72 mitra dalam dan luar negeri, melibatkan 4 desa binaan dan masyarakat SD hingga lansia.
Beberapa program PKKM yang diunggulkan antara lain adalah Redesain Science Center Puspa Iptek (Sundial) Kota Baru Parahyangan, bekerja sama dengan Indigo, Sembilan Matahari, dan Kota Baru Parahyangan; Intervarsity International Design Competition 2021, bekerja sama dengan Universiti Sains Malaysia dan Universitas Ciputra; dan Pembuatan masterplan Eduwisata Lebah dan Bunga Matahari area Kelompok Usaha Bersama di sekitar Kota Baru Parahyangan, melibatkan masyarakat sekitar dari desa Bojongsoang, Cikande, dan Kertajaya.
Kemudian ada proyek kolaboratif Desain Revitalisasi Kampung Jamblang sebagai Destinasi Wisata Cagar Budaya Tionghoa di Kabupaten Cirebon, bekerja sama dengan Guangxi Arts University dan Guangxi University for Nationalities; juga Maranatha Entrepreneurship Day (MED) 3.0, menghadirkan pembicara nasional Andy F. Noya dan Merry Riana yang mengangkat topik sociopreneurship, dengan jumlah peserta lebih dari seribu orang.
Bola Salju Penggerak Tridarma
Perguruan tinggi di Indonesia yang berjumlah sekitar 4.700 harus dapat menghasilkan lulusan yang dapat diserap dunia industri. Oleh karena itu keterlibatan kalangan industri dalam mengembangkan kurikulum perguruan tinggi sangat diperlukan. Perguruan tinggi pun harus adaptif dengan industri. Hal tersebut adalah salah satu dampak yang ingin dihasilkan dari program Kampus Merdeka melalui PKKM yang kolaboratif dan partisipatif.
Baca juga → 100 Kampus Terbaik Webometrics 2021
Paris mengibaratkan PKKM seperti bola salju yang digelindingkan bersama-sama dari puncak gunung. Mahasiswa, dosen dan pengajar, pihak industri, dan masyarakat adalah elemen-elemen yang akan menggelindingkan bola salju itu bersama-sama agar memberikan dampak yang besar. Semua elemen terlibat dan terkena dampak positif yang menggerakkan roda ekosistem tridarma perguruan tinggi melalui delapan IKU.
“PKKM yang dijalankan di Maranatha mungkin saat ini menginspirasi Jawa Barat, dan kemudian akan menjadi inspirasi Indonesia, dan berikutnya akan menginspirasi dunia,” kata Paris. Ia pun berharap agar PKKM Maranatha dapat menjadi contoh yang baik dan menginspirasi banyak perguruan tinggi lain.
Paris berpesan, bagi perguruan tinggi yang ingin menjadi bagian dalam PKKM, agar memperhatikan lima hal, yaitu 1) kejelasan proposal; 2) keterlibatan elemen-elemen yang terkait; 3) kapasitas institusi dan mitra untuk melaksanakan program; 4) kelayakan anggaran yang diajukan; dan 5) keberlanjutan program.
(@infokampus)
ilustrasi atas: pkkmdikti.kemdikbud.go.id
Baca topik lainnya tentang dunia pendidikan → Seputar Kampus



