Bertambah lagi lulusan perguruan tinggi yang siap membangun dan memajukan Indonesia. Mereka adalah 759 lulusan yang baru saja diwisuda dari salah satu kampus ternama di Bandung. Mengikuti upacara wisuda adalah suatu hal yang membanggakan, menandai berakhirnya perjuangan beberapa tahun menempuh studi. Namun kemudian timbullah pertanyaan ini: “Setelah diwisuda, lalu ngapain?” atau “Jangan-jangan, setelah ini saya menjadi bagian dari angkatan pengangguran…”
Pertanyaan sekaligus kekhawatiran tersebut menjadi krusial khususnya dalam masa pandemi seperti saat ini. Normalnya, seorang lulusan perguruan tinggi pasti akan mencari pekerjaan dan mengembangkan kariernya begitu lulus dan diwisuda. Namun di tengah kondisi pandemi, mencari pekerjaan sepertinya bukan perkara biasa.
Apalagi di tengah kondisi seperti ini, malahan banyak perusahaan yang mengurangi sumber daya manusianya, bahkan berhenti beroperasi hingga tutup permanen. Situasi ini menjadi tantangan besar tidak hanya bagi dunia industri, tetapi juga berimbas langsung pada nasib para pencari kerja, khususnya para lulusan fresh graduate.
Baca juga → Universitas Terbaik Indonesia uniRank 2021, Terbaik Apanya?
Kebanggaan IPK Tinggi
Setiap kali acara wisuda di perguruan tinggi mana pun, hari itu menjadi hari yang membahagiakan dan membanggakan bagi sang wisudawan atau wisudawati beserta keluarganya. Terlebih lagi bagi para lulusan yang menyandang predikat terbaik, cum laude, atau masuk jajaran lulusan dengan IPK tertinggi.
Menjadi lulusan cum laude dengan pujian tertinggi tentu menjadi impian setiap mahasiswa. Tidak mudah mendapatkan predikat itu tanpa disertai perjuangan, kerja keras, dan pengorbanan yang besar. Setiap lulusan yang menyandangnya tentu telah melakukan itu semua. Mereka layak berbangga, layak diapresiasi, karena memang sedemikian besarnya upaya mereka. Di titik ini, kerja keras dan perjuangan mereka terlihat hasilnya.
Di sisi lain, banyak juga lulusan yang sangat puas dengan kelulusannya, berapa pun IPK yang mereka capai. Berhasil lulus dan diwisuda, berhak menyandang gelar akademik di belakang nama, sudah merupakan pengakuan atas keberhasilan studi mereka. Gelar yang sudah dipegang adalah bukti kemampuan yang telah dikembangkan semasa kuliah.
Sebetulnya, apa yang harus dikejar oleh seorang mahasiswa pada masa studi hingga lulus nantinya? Apakah betul IPK setinggi mungkin adalah target terpenting? Apakah IPK 4 adalah jaminan kesuksesan masa depan?
Definisi dan Rumus Sukses
Cukup mengejutkan apa yang dikatakan kepada para lulusan Universitas Kristen Maranatha berikut ini. “Kalau Anda punya IPK tinggi, tapi tidak punya integritas, percayalah Anda tidak akan dipakai,” kata Pdt. Hariman Pattianakotta, Pendeta Universitas Kristen Maranatha di hadapan para lulusan yang sebagian besar hadir secara daring pada Upacara Wisuda Lulusan Periode I 2021/2022 (Sabtu, 20/11/2021).
IPK memang penting, tetapi bukan yang terpenting untuk menjamin kesuksesan. Kesuksesan adalah hasil dari sebuah proses. Bagaimana kita meniti dan menjalani prosesnya, itulah yang akan membawa kita pada hasilnya. Dalam menjalani proses menuju sukses itu, hal pertama yang harus kita miliki adalah integritas. Ini adalah hal yang paling penting, jauh lebih penting daripada IPK.
“Jadikan keyakinan kita akan Tuhan, apa pun agama dan keyakinan kita, sebagai penguat jiwa dan mental agar kita tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang berintegritas,” pesan Pdt. Hariman. Ketika kita tumbuh menjadi pribadi yang berintegritas, maka sesungguhnya kita sedang memantaskan diri untuk suatu kepercayaan; untuk suatu tugas; untuk suatu misi. Kalau kita memiliki hal itu, maka percayalah kita akan dipakai di mana saja.
Baca juga → Cermat Pilah-pilih Jurusan Kuliah, Jangan Menyesal Kemudian
Manusia Pembelajar
Hal berikutnya yang harus dimiliki adalah nilai lebih, yaitu kemampuan, kompetensi, dan kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Lulus dan selesai studi bukan berarti kita selesai belajar. Kita harus selalu meng-upgrade kemampuan, terus mengembangkan diri mengikuti perkembangan yang ada di sekitar kita.
Bila kita berhenti belajar, maka kita akan ketinggalan, karena dunia akan terus berubah. Pendeta Hariman menuntaskan pesannya, “Mau tidak mau, suka tidak suka, jadilah manusia pembelajar. Milikilah spirit excellence, dan aktualkan dalam kehidupan sehari-hari.”
Itulah dua faktor penjamin kesuksesan ala Pendeta Hariman. Pertama adalah integritas, dan yang kedua adalah spirit excellence disertai semangat untuk tidak pernah berhenti belajar. Bila kedua hal itu kita miliki, percayalah bahwa bukan kita yang akan kesulitan mencari pekerjaan, tetapi pekerjaan dan kesuksesanlah yang akan mendatangi kita.
(am)
foto atas: Yosua Rendi




Orang pintar tapi tidak jujur, tidak punya sikap dan karakter baik, tidak peduli dengan orang lain = tidak berguna
Integritas yang tinggi adalah salah satu karakter yang baik. Kunjungi https://unair.ac.id/