Red Hills and White Flower (Georgia O'Keeffe)

Rok Putih

Malam ini tidak seperti hari-hari kemarin. Wajah Mbah terlihat lebih cerah.

“Mbah cantik ya…” celetuk bocah yang juga cantik dan imut, cicitnya.

Riasan tipis di wajah Mbah membuatnya tampak segar, lebih muda. Terakhir Mbah pakai riasan, adalah bulan lalu saat hari ulang tahunnya. Walau usianya menyambut seabad, Mbah masih tetap ingin tampil maksimal. Mbah selalu menantikan saat-saat mantunya memermak wajahnya jadi lebih merona.

“Kulitku iki ya isih kenceng, ora keriput. Mulus, isih ayu.” Pede sekali Mbah berujar. Amat serius raut mukanya.

Mbah selalu semangat ketika bulan April tiba. Belum sampai harinya pun ia sudah berkali-kali menanyakan kapan ulang tahunnya akan dirayakan. Bahkan, beberapa hari setelahnya pun Mbah tetap menanyakan, kapan ulang tahunnya akan dirayakan.

“Sudah kemarin, Mbah. Kemarin Mbah sudah makan tumpengnya, kan…” jawab sang mantu.

“Oo… wis wingi, ya…” timpal Mbah sembari tersipu.

Maklum, Mbah sudah agak sulit membedakan waktu. Siang dan malam nyaris sama di matanya yang sudah kabur. Lagipula, beberapa bulan terakhir ini Mbah lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamarnya. Sesekali saja keluar kamar dan ikut nimbrung di meja makan, ngemil sambil ngobrol ngalor-ngidul.

Sejak jatuh beberapa bulan lalu, Mbah tidak berani jalan-jalan sendiri seperti sebelumnya. Kemarin-kemarin Mbah masih bisa berdiri dan berjalan dengan bantuan tongkat. Langkahnya pendek-pendek, agak membungkuk. Gaya jalannya mirip seperti penguin.

Cicitnya yang lain sering menirukan gaya berjalan Mbah yang khas itu. Mbah tergelak tiap kali melihat tingkah cicitnya memeragakan gaya berjalannya. Sungguh sayang, sekarang ini kaki dan tangan Mbah sudah tak lagi kuat. Sudah beberapa bulan belakangan Mbah pakai kursi roda.

Rupanya betul yang dikatakan banyak orang, bahwa bayi lahir kemudian besar menjadi orang, lalu sepuh dan kembali seperti bayi lagi. Menjaga orang sepuh seperti layaknya menjaga bayi. Kasih sayang dan curahan perhatian pun berbalik arah, dari anak cucu kepada sang sepuh.

*

Mbah adalah seorang janda. Belahan hatinya sudah lebih dulu meninggalkannya puluhan tahun silam. Mbah masih ingat betul bagaimana mereka bertemu lalu menikah, dan memiliki tiga orang putra yang ganteng-ganteng. Tak kalah ganteng dan baiknya dengan mendiang ayah mereka.

Mbah juga masih ingat kejadian yang menimpa suaminya saat dipanggil pulang oleh Yang Kuasa.

Bulan lalu saat bercengkerama di meja makan, Mbah menceritakan ingatan-ingatan masa lalunya ketika ia masih muda. Sesekali Mbah menyanyi, melantunkan beberapa lagu seingatnya. Nadanya fals dan tidak pas, tapi nyanyiannya sangat nyaman terdengar. Setidaknya di telinga Wasno, cucunya.

Wasno juga baik dan ganteng, menurun dari bapak dan eyangnya.

Gelinya meruak saat Mbah menyanyikan lagu Burung Kakatua. Kecuali bagian burungnya, lagu itu persis seperti penampilan Mbah. Apalagi bila sedang tertawa. Mbah menyanyikannya setelah cucunya itu berkelakar, gara-gara Mbah mencoba memakan jajanan favoritnya dalam sekali lahap. Mbah pun kewalahan karena giginya yang tinggal dua.

Ada-ada aja Mbah ini. Semangatnya jauh mengungguli badannya yang renta.

Mbah suka sekali makan pia kukus, kue-kue jajanan pasar, roti isi daging halus. Semuanya makanan lembut, yang bisa dikunyah tanpa gigi. Hebatnya, Mbah juga suka makan emping. Bukan emping melinjo yang besar dan tebal, tapi emping kecil-kecil tipis yang biasa dipakai untuk gado-gado.

Kalau sudah selesai makan dan puas mengobrol, Mbah minta diantarkan lagi ke kamarnya. Badan Mbah gampang lelah, jadi tak kuat duduk lama-lama. Antara kamar tidur atau meja makan, dua tempat itu saja yang sehari-hari jadi pusat aktivitasnya.

Mbah bisa diajak ngobrol ke mana saja. Bila ditanya a, jawabannya bisa b. Bila ditanya c, jawabannya bisa f. Obrolannya jadi ke sana kemari.

Pendengaran Mbah sudah agak parah, sehingga kurang bisa merespon pertanyaan dengan akurat. Jawabannya bisa betul-betul enggak nyambung. Itulah asyiknya mengobrol dengan Mbah. Seru, walaupun terkadang juga jadi menjengkelkan, bila tak keburu menyerah duluan.

*

Suatu kali, Mbah bercerita tentang salah satu baju bikinannya. Baju itu sangat spesial.

Mendengar ceritanya, baju yang satu ini sangatlah penting bagi Mbah. Ia mewanti-wanti layaknya sedang memberi wejangan.

Tak ada yang berani menyentuh gaun spesial itu.

Warnanya putih, pas ukurannya dengan badan Mbah. Gaun brokat itu dibuat khusus untuk dipakainya sendiri. Seingat Wasno, ia pun belum pernah secara langsung melihat bentuk gaun spesial itu.

Ia tak berani melihatnya.

Mbah menyimpan gaun itu di lemari kuno yang bentuknya sangat antik. Lemari coklat tua itu sudah ada sejak Wasno lahir. Di bagian atas pintunya tertempel stiker. Mbah menuliskan sendiri tulisan “Rok Putih” di stiker itu menggunakan spidol. Tulisan tangannya sangat khas.

Konon, rok itu dibuat Mbah saat usianya belum enam puluh.

Dulu Mbah meyakini bahwa dirinya akan dipanggil pulang oleh Yang Kuasa saat usianya enam puluh. Karena itulah Mbah sudah mempersiapkan gaun terbaik untuk nanti dikenakan saat perjalanan pulangnya.

Tahun demi tahun selepas usia enam puluh, Mbah masih saja gesit. Mbah juga keras kepala, tidak bisa diam. Maunya ke sana kemari melakukan aktivitasnya sehari-hari. Bandel memang, walaupun tubuhnya sudah tak muda lagi.

*

Mbah memang luar biasa. Bisa membesarkan ketiga putranya dengan sangat baik. Ketiganya menjadi orang-orang yang baik dan bijak.

Bakat dan kepintaran Mbah menurun ke putra keduanya, ayah Wasno. Bapaknya itu pintar sekali menjahit baju. Ilmunya didapat dari Mbah, yang dulunya modiste mahir. Mbah juga mengajar jahit-menjahit di rumahnya.

Samar di ingatan Wasno, saat kecil dulu ia sering bermain payet dan mute warna-warni milik Mbah. Dulu Mbah juga punya banyak koleksi patron model baju dan gambar-gambar pola aplikasi payet.

Hampir semua patronnya digambar tangan, di atas kertas minyak. Aplikasi bikinan Mbah juga sangat menarik perhatian Wasno saat itu. Maklum, bocah zaman dulu tidak punya mainan canggih-canggih seperti anak-anak jaman now. Melihat lembaran-lembaran patron dan karya-karya aplikasi Mbah yang karakter dan bentuknya macam-macam, Wasno seakan sedang menikmati komik.

Wasno tidak punya bakat menjahit atau membuat aplikasi di baju betulan seperti Mbah. Ia hanya berminat memainkan dan mencampuradukkan koleksi payet warna-warninya. Mbah tak pernah memarahinya. Padahal, susah sekali memisahkan ratusan bahkan ribuan payet dan mute yang porak-poranda akibat polah cucunya yang sangat kreatif itu.

Mbah juga sangat sehat, jarang sakit.

Tepat bulan April kemarin, usianya masuk 96 tahun. Mbah masih bisa guyon dengan anak, cucu, dan cicitnya. Bahagia dan bersyukur rasanya, punya Mbah yang dikaruniai kesehatan dan kebaikan berlimpah.

Wasno selalu rindu bertemu dengan Mbah. Dalam hatinya membekas curahan kasih Mbah yang sangat dalam. Apalagi Mbah sangat telaten merawatnya sedari bayi. Namun, sudah lama Wasno jauh dari Mbah. Sejak kuliah dulu ia pergi merantau, dan keterusan hingga menikah, sampai punya anak—cicit pertama kesayangan Mbah.

Mbah selalu menantikan kehadiran Wasno, yang biasanya hanya sekejap.

Ketika liburan usai, pelukan Mbah mengantar Wasno pergi lagi. Mbah membisikkan pesan dengan suara lantang.

“Mengko yen prei meneh, teka mrene ya, ora ketang mung sadhela, sing penting mrene, aku ya kangen.”

Akhir liburan memang saat yang berat. Kembali lagi ke rutinitas, meninggalkan Mbah di kampung halaman. Didera kesibukan kantor yang tak habis-habisnya, semakin hari semakin susah saja mencari waktu yang pas untuk mengunjungi Mbah.

Wasno adalah pekerja keras. Dan sepertinya ia bukan pekerja cerdas. Buktinya, ia selalu sibuk. Waktunya habis untuk kerja, dan kerja. Saat luang, pikirannya juga dipenuhi urusan kerjaan. Family time adalah kemewahan, terlebih lagi bagi istri dan anaknya.

Sungguh malang.

“Suruh siapa aku merantau setengah Jawa jauhnya dari rumah Mbah?”

Pertanyaan itu sering hinggap di kepala Wasno. Ia merasa mungkin saja keputusannya itu salah, membuatnya jauh dari Mbah, dari bapak dan ibunya, dari adik semata wayangnya.

Perjalanan ke rumah Mbah yang hanya lima ratus kilo mulai terasa melelahkan. Tak seperti dulu saat badan Wasno belum sampai kepala empat.

“Sungguh sang waktu telah melengahkanku, mengambil itu ini yang tak bisa kuminta kembali.”

Waktu cepat sekali berlalu.

Tiba-tiba semua menua. Semua mulai kehabisan waktu.

“Mengapa saat kecil dulu, rasanya ingin sekali aku cepat-cepat besar menjadi dewasa?”

Sekarang justru ia menyesalkan itu.

“Bodoh sekali ingin cepat-cepat besar dan menjadi tua!”

*

Malam ini tangan Wasno agak gemetar.

Bukan gemetar karena lapar. Bukan juga karena habis menyusur setengah Jawa. Dari kemarin pikirannya mengembara. Menapaki cerita-cerita Mbah yang masih membekas di angan-angan.

Ia berkeras ingin melihat rok putih itu.

Berat rasanya kaki melangkah. Sejatinya sangat tak siap Wasno melihatnya. Ia takut.

Segenap energi dan kekuatan dihimpun. Perlahan ia mendekat. Perasaannya campur aduk.

Malam ini Mbah memang terlihat cantik. Ia mengenakan rok putih itu.

Warnanya sudah tidak seputih saat Mbah menjahitnya, sekitar 36 tahun lalu. Mulai menguning beberapa bagian kainnya. Namun, keanggunannya tak luntur. Ini pertama kalinya rok putih itu sah dikenakan.

Sungguh pas dan anggun. Memeluk tubuh Mbah di perjalanannya yang agung.

Kali ini, Wasno yang membisikkan pesan.

“Sampai bertemu, Mbah!”
“Sampai lagi kita bertemu.”


ins / 2022
In Memoriam Sri Redjeki
(16 April 1926 ~ 17 Mei 2022)

gambar atas: “Red Hills and White Flower” (Georgia O’Keeffe, 1937)

5 bintang | 8 pendukung

Manis Getir Dunia Bisnis
Seputar Kampus
Bercermin di Wajah Sungaiku
The Future of Ideas