Kata Pengantar

Prof. Dr. F.X. Mudji Sutrisno, SJ


Kesadaranlah yang bisa “membaca” hidup dalam arti memberi arti atau makna pada yang Anda baca menurut makna yang Anda percayai. Maka benarlah bila misalnya pendidik Brazilia yaitu Paulo Freire menjelaskan ada kesadaran yang tidur atau “bisu” atau belum bangun.

Ada kesadaran intransitif (seperti kalimat) yang tidak berobjek. Ada kesadaran transitif berobjek sampai ke tingkat kesadaran kritis, tak hanya transitif aktif, tetapi menggugatnya secara kritis. Melalui kesadaranlah kita mengenal titik, lalu titik-titik yang ditarik menjadi garis.

Dalam buku ini, kesadaran mengenai “titik” disebut dimensi pertama atau dimensi satu. Sedangkan kesadaran akan titik-titik yang dihubungkan menjadi “garis” merupakan dimensi-dimensi dua. Bila kesadaran Anda menaruhnya dalam ruang dan waktu, itulah dimensi tiga.

Lalu dimensi empat dan lima, manakah itu?

Jagat kesadaran yang menjadi “lebih dalam” dan “lebih menuju yang ilahi itu” di buku ini dipaparkan dalam dimensi-dimensi selepas ketiga. Yaitu realitas kehidupan yang disadari dalam kesadaran akan realitas kehidupan sehari-hari dalam ruang dan waktu, yang sesudahnya dipaparkan sebagai alam mimpi yang disadari karena adanya pengalaman emosional yang membuka peluang menuju dimensi lima.

Dimensi empat disebut dimensi astral penjembatan dimensi lima, yaitu kesadaran akan roh dalam diri manusia, pengalaman mencintai dan dicintai, yang memuat pengalaman cahaya batin atau nurani. Bagai cahaya sorot matahari yang menyinari semua yang ada. Mencintai dan dicintai merupakan pengalaman gelombang cahaya yang tidak tampak, tetapi batin yang terkenai cahaya pencerahan pembaruan hidup.

Jadi, cahaya cinta kasih akan dialami manusia bila sedia meditasi tentang dirinya dan sesamanya untuk semakin hidup. Seperti matahari dengan energi cahaya yang menghidupi manusia dan semesta.

Buku ini menawarkan estetika keindahan sebagai dimensi multi dari kesadaran cahaya cinta kasih yang bisa ditengarai. Misalnya pada aura orang yang sudah jatuh cinta, persahabatan, hubungan suami istri, dalam energi gelombang spektrum cahaya yang tampak oleh mata biasa.

Apakah sebuah “inner journey” (ziarah batin) yang menembus, “outer journey” bila berpikir dikotomik? Itulah kelebihan buku ini untuk mengajak kita menuju kesadaran keindahan yang estetis untuk multidimensi. Dan itulah inti “inner journey” atau spiritualitas dengan estetika kesadaran multidimensi. Yaitu kesadaran akan hidup sendiri, yang oleh ketimuran mau disederhanakan (padahal tidak sesahaja itu) dengan “harmoni”, versus yang “barat”, yang lebih cari tahu secara epistemologis.

Dua-duanya biasa kita sebut dikotomi. Supaya tak jatuh dalam dikotomi itulah, buku ini memapar estetika kesadaran yang “multidimensi” atau “spiritualitas” (tidak sederhana pula!).

Selamat membaca.

Akhir Mei 2024

Mudji Sutrisno, SJ



Buku lainnya oleh Gai Suhardja