
Teologi Sungai
Gai Suhardja
Berteologi diperlukan dalam perjalanan hidup beriman seorang awam karena manusia mencari siapa yang menciptakan dirinya serta asal-usul seluruh alam semesta, menyadari eksistensi diri yang akan berakhir pada saat kematian, rasa ingin tahu ke mana dan bagaimana ketiadaannya. Demikan pula, bagaimana alam semesta kelak? Karenanya, teologi yang telah menyejarah dalam hidup beragama tetap berlanjut dipelajari hingga kini.
Permulaan kata teologi yang dalam bahasa Inggris ‘theology’ berasal dari kata bahasa Yunani ‘Theos’ yang artinya Tuhan atau Dewa, dan ‘logos’ yang berarti ilmu (science, study, discourse). Teologi berarti ilmu tentang ketuhanan oleh manusia.
Kiranya hidup manusia dimaksudkan pada suatu kehidupan yang lebih tinggi nilainya daripada sekadar mencari kebahagiaan belaka. Mengartikan kebahagiaan dengan hanya soal puas diri oleh suatu keberhasilan, atau suatu kenikmatan, hanyalah sifat bahagia yang agak dangkal dan terkesan hedonis.
Dalam Niomachean Ethic, Aristoteles mengatakan bahwa bahagia adalah tujuan dari etika, tujuan dari perbuatan manusia. Setiap orang berhak untuk bahagia. Bahagia berarti bersahaja, bersikap biasa saja meskipun ia sudah memiliki segalanya, tidak merasa lebih tinggi dari orang lain, bahkan bersedia memberikan bagian kepada orang lain.
Hebatnya Manusia
Dalam sejarah kehidupan, manusia merupakan bukti kehebatan ciptaan, yang mengungguli makhluk lainnya. Bilamana kita masuk museum, kita dapat melihat peninggalan purbakala, gedung orkestra, pameran seni rupa, arsitektur, musik, film, fotografi, tari, tulisan, dan sebagainya. Ini sungguh membangkitkan rasa kagum, sebab karya-karya seni tersebut menggemakan kedahsyatan manusia.
Karya tulis yang menggambarkan kedalaman berpikir para penulis besar seperti Tolstoy, Tagore, Dostoevsky, Pramoedya Ananta Toer, dan Mangunwidjaya. Ada juga karya besar arsitektur masa silam yang memukau seperti Candi Borobudur, hingga karya arsitektur modern seperti Opera House di Sydney, gedung Olimpiade di Beijing-China. Ternyata, manusia mampu menciptakan lingkungan alam sekitar sesuai kemauannya.
Selain itu, seni musik karya komponis agung seperti Bach, Mozart, Beethoven, Vivaldi, dan Tschaikovsky yang sungguh mengagumkan. Kita sangat bangga pula dengan aneka ragam kesenian Indonesia dari Sabang sampai Merauke, seperti keindahan karya lukisan Basuki Abdullah, Hendra Gunawan, atau Affandi yang ekspresif, hingga karya seni kontemporer pada zaman ini.
Kini, walau kita berada dalam abad informasi digital, nyatanya manusia sadar bukan lagi sebagai makhluk terhebat. Terbukti bahwa bakteri dan virus mampu membuat manusia kewalahan mengatasi serangan pada kesehatan tubuh dan kehidupannya.
Upaya preventif terus dilakukan dengan berbagai riset dan penelitian pengobatan demi kesehatan dan kesejahteraan hidup. Manusia tak dapat hidup tanpa bakteri, sedang bakteri dapat hidup tanpa manusia. Sejak ilmu pengetahuan berkembang dalam peradaban, mereka mulai menyadari serbakekurangan dan keterbatasan dirinya dalam melihat kenyataan cakrawala semesta alam yang mahaluas.
Mencari Tuhan
Manusia ingin hidup lebih panjang. Manusia mencari asal-usul sejak masa purba dengan bertanya, “Siapakah manusia?” “Bagaimana terciptanya alam semesta, manusia, dan semua makhluk yang ada di cakrawala ini?”
Juga, pertanyaan berikutnya, “Siapakah gerangan yang menciptakan segalanya itu?”
Pertanyaan terakhir itulah yang disebut sebagai teologi yang kemudian tiba pada ilmu mencari Tuhan, Allah semesta alam, dari kitab-kitab suci keagamaan, atau dari fenomena kehidupan pengalaman manusia.
Sebenarnya dalam kitab Kebijaksanaan 13:5 tertulis, “Sebab orang dapat mengenal Khalik dengan membandingkan-bandingkan kebesaran dan keindahan ciptaan-ciptaan-Nya.” Ciptaan itu adalah alam semesta nan luas, makhluk-makhluk bumi serta berbagai tanaman, terlebih manusia yang memiliki gambaran keserupaan dengan Sang Pencipta yang agung.

Bahasan dalam buku ini menggunakan metode literasi akademis sudut pandang teologis, filsafat, sains praktis, dan pengalaman estetik, hakikat keindahan yang senantiasa mengandung misteri tak terpahami.
Barangkali dialog antara bernalar dan beriman dapat membuahkan daya upaya manusia untuk makin dalam memahami kehidupan ataupun kematian.
— Gai Suhardja

Penerbit PT Kanisius
. . .
Anda bisa membeli atau mendapatkan buku ini (gratis)
Persediaan terbatas, klik tombol di bawah ini
. . .
Lihat juga buku ini → The Future of Ideas | Drawing as Art Therapy
