Multidimensional

Alam Semesta


Alam semesta yang menjadi tempat kehidupan manusia dan makhluk lainnya, khususnya di planet bumi ini, tak pernah disangkal keindahannya. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan, manusia juga melihat keindahan langit, angkasa yang teramat luas dengan segala isinya, menakjubkan pemikiran manusia sebagai makhluk dengan kecerdasan. Mengamati alam semesta, seperti dikatakan oleh Jay B. McDaniel, bahwa proses evolusi dunia ini bagai spiral yang berada dalam lingkaran Sang Pencipta, menjadi tak terpisahkan.

Sebaliknya, kini manusia, oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, juga memberikan dampak pada kelestarian alam. Kerusakan terjadi oleh umat manusia yang abai terhadap lingkungan hidup sekitarnya. Sungai dan gunung, juga sumber mata air yang dieksploitasi menyebabkan kerusakan alam.

Planet bumi yang indah ini, jika tak dipelihara segala isinya, akan rusak. Padahal, manusia terus beranak cucu, bertambah jumlahnya walau yang meninggal juga terus bertambah. Namun, apakah anak cucu tersebut akan mewarisi planet bumi yang nyaman lestari dan menghasilkan segala isinya yang dapat menghidupi manusia dari generasi ke generasi?

Belum tentu demikian jika sikap manusia tak juga berubah untuk tak sekadar peduli lingkungan hidup, melainkan terus menjaga planet ini dari kemungkinan perusakan.

Dalam cakrawala alam semesta sampai saat ini, manusia masih menganggap bahwa hanya planet bumi saja yang berisi kehidupan manusia dan makhluk-makhluk lain yang diciptakan oleh Allah. Ilmu pengetahuan fisika dan astronomi masih meyakini belum ada makhluk lain di alam semesta yang mahaluas ini selain di planet bumi. Namun demikian, pemandangan kosmos dengan keindahan luar biasa sudah bisa diamati dengan peralatan teknologi.

Nebula, galaksi dengan miliaran bintang yang terbentang seakan tanpa batas sudah dapat diketahui melalui kesadaran keilmuan yang dibuktikan oleh kecanggihan peralatan teknologi. Teori evolusi kosmos menyatakan bahwa hukum gravitasi membentuk strukturnya, suatu ruang dalam tiga dimensi dengan objek astronomi yakni planet, bintang-bintang, dan galaksi yang tentunya belum tuntas pencariannya ke luar angkasa.


Apakah kematian melenyapkan eksistensi seorang manusia?


Ketidakpuasan manusia akan dunianya sendiri karena kehidupan selalu dibatasi oleh ajal. Pengalaman kematian sebenarnya sudah mereka pahami sejak peradaban masa lampau, bahwa alam semesta adalah kehidupan dan kematian.

Namun, manusia modern berniat meneruskan pertanyaan, apakah kematian melenyapkan eksistensi seorang manusia? Pertanyaan ini selalu menjadi arah mencari misteri ilahi, terlebih sesudah berbagai ritual keagamaan meyakini bahwa hanya tubuh yang mati, sedangkan roh atau jiwa manusia itu tetap hidup menuju keabadian, mungkin di alam semesta dimensi berikutnya.

Bila mimpi disebut dimensi keempat, maka roh atau jiwa yang pergi meninggalkan tubuh yang mati akan masuk ke dimensi kelima. Barangkali keberlanjutan roh masih misterius dari sudut pandang tiga dimensi. Akan tetapi, dengan pertimbangan adanya dimensi selanjutnya, keyakinan bahwa roh meninggalkan tubuh yang sudah mati untuk menyongsong kehidupan berikutnya menjadi relevan.

Manusia sejati (Spinoza)

Buku lainnya oleh Gai Suhardja